Mengenal Pintu Surga

Ibnu abbas berkata : "sesungguhnya surga itu mempunyai pintu - pintu yang berjumlah 8 buah". Dimana pintu - pintu tersebut terbuat dari emas yang di taburi jauhar (sejenis mutiara). Pintu – pintu tersebut akan dimasuki oleh penghuni surga, menurut kedudukannya masing – masing. Dari kedelapan pintu itu, antara lain:
1)Pintu ke-1: Untuk para nabi dan rasul, termasuk para syuhada serta para dermawan yang membelanjakan hartanya dijalan Allah.
2)Pintu ke-2: Bagi kaum muslimin yang rajin shalat, senantiasa memperbaiki wudhunya, serta orang – orang yang menyempurnakan rukun – rukun dalam shalat.
3)Pintu ke-3: Untuk orang – orang yang memberikan zakatnya dengan ikhlas hati.
4)Pintu ke-4: Bagi orang yang memerintahkan kepada kebaikan, serta mencegah kemungkaran.
5)Pitu ke-5: Untuk orang – orang yang senantiasa mengekang hawa nafsunya dan memutuskan hawa nafsu yang mengajak kepada kemungkaran.
6)Pintu ke-6: Bagi orang – orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah.
7)Pintu ke-7: Untuk orang yang berjihad dijalan Allah.
8)Pintu ke-8: Bagi orang yang bertakwa , orang yang mengerjakan perbuatan baik.

Demikianlah pintu – pintu surga yang berjumlah 8 buah. Setiap pintu tersebut terbuat dari bahan – bahan yang menakjubkan, antara lain:
 Pintu ke-1: “ Daarul – jalal” yang terbuat dari mutiara putih.
 Pintu ke-2: “Daarussalam” yang terbuat dari yaakut merah.
 Pintu ke-3: “Jannatul ma’wa” yang terbuat dari jamrud hijau.
 Pintu ke-4: “Jannatul khuldi” yang terbuat dari marjan merah.
 Pintu ke-5: “Jannatul na’im” yang terbuat dari perak putih.
 Pintu ke-6: “Jannatul firdaus” yang terbuat dari emas merah.
 Pintu ke-7: “Jannatul ‘ain” yang terbuat dari intan putih.
 Pintu ke-8: “Daarul qarar” yang terbuat dari emas merah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

menangis itu indah

Menurut kita, mungkin menangis itu identik dengan sensitifnya suatu perasaan dalam hati. Menagis adalah ungkapan yang jujur tentang suara batin manusia, yang tidak hanya terbatas sebagai expresi rasa sedih, kecewa, dan menyesal. Sering kali kita dengar bahwa orang yang menangis ialah orang yang cengeng atau lemah. Padahal, menangis, sungguh salah satu simbol dari tingkat spiritual seorang hamba sebagai ungkapan rasa rindu yang menggebu kepada khaliknya.
Bahkan rasulullah SAW di kenal sebagai orang yang mudah sekali mencucurkan air mata (menangis). Ketika di tinggal mati istrinya tercinta, beliau menangis meskipun tanpa meraung dan menjerit-jerit, sebab hal itu memang dilarang.
Menurut Abdullah Yusuf Ali, penulis The Holy Quran, menangis adalah ungkapan dari perasaan yang benar-benar khusyu yang mudah tersentuh oleh kebenaran dan agung yang datang menyelinap kedalam kalbu. Tapi menagis disini bukan karena kesakitan, broken heart atau yang lainnya.
Berbahagialah orang yang mudah menangis, sebab ia dapat mengecap rahmat Allah, untuk dapat merenungi dosa-dosanya di hadapan sang khalik. untuk memompakan semangat ke imanannya yang renggang, mencerahkan hatinya yang tercemar dan melihat kembali posisi dirinya yang teramat lemah dihadapan Allah.
Hal itu yang menyebabkan rasul menyuruh kita untuk menangis.

oleh: syahroni

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

belajar dari sebuah pohon apel

Dalan setiap buah apel kira-kira sepuluh biji apel, pada sebuah pokok pohon apel ini berarti ada seribu biji apel, ini jumlah biji yang sangat banyak dari setiap banyak biji buah apel mungkin kita menemukan satu atau dua pohon apel, kita jadi bertanya, "kenapa perlu segitu banyak biji apel untuk menumbuhkan satu atau dua pohon apel yang baru?.
Alam ternyata ingin mengajarkan kepada kita sesuatu, alam hendak mengatakan bahwa tidak semua biji buah itu yang dapat tumbuh manjadi pohon yang baru, sebagian besar biji itu tidak menjadi tanaman, apa yang bisa kita tarik persamaanya pada kehidupan kalu kita mau berhasil melakukan sesuatu dalam hidup kita, kita harus berjuang dan berusaha lebih dari satu kali, jadi jangan pernah menyerah ketika kita mendapatkan kegagalan ketika kita berusaha, mungkin usaha yang pertama gagal tapi usaha yang dua, ketiga dan seterusanya kita pasti bisa mengahsilkan sesuatu apa yang kita inginkan.
Dalam syarah orang-orang yang berhasil sebenarnya telah mengalami banyak kegagalan, tetapi mereka terus menanam biji lebih baik lagi (terus berusaha) apabila terjadi sesuatu di luar kendali, janganlah besikap seolah-olah menentukan bagaimana seharusnya lingkungan (dunia).
Jadi jangan pernah menyerah ketika kita mendapatkan kegagalan dalam berusaha, mungkin usaha yang pertama gagal akan tetapi usaha yang dua, ketiga dan seterusanya kita pasti bisa mengahsilkan sesuatu apa yang kita inginkan.

oleh: syahroni

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Cerita Seorang Ibu Dan Anak Lelakinya

Sebut saja namanya ibu Sabar, beliau wanita luar biasa yang aku kenal. Berputra empat, tiga perempuan dan seorang laki-laki. Suaminya sudah tidak lagi bekerja dikarenakan sakit lama yang dideritanya.
Saat ini adalah saat yang mengharukan bagi sang Ibu. Puji syukur tak henti-hentinya beliau panjatkan kepada Yang Maha Kuasa, karena anak lelakinya sekarang sudah punya pekerjaan dan akan menikah dengan seorang yang sudah dikenal kebaikannya.Terbayang peristiwa sekitar lima tahunan yang lalu..Ya Alloh..perkenankanlah doaku semoga anak lelakiku mendapatkan istri yang shalehah.
Lima tahunan yang lalu anak lelakinya pergi merantau ke negeri seberang jauh dari kampungnya untuk mencari penghidupan yang layak.Cita-citanya adalah menjadi tulang punggung keluarga, mengingat dialah anak lelaki satu-satunya, sedang bapaknya sudah tidak bisa bekerja lagi.
Hari berganti hari. Ibunya sangat merindukannya. Sampai suatu ketika, sang ibu mendapat kabar yang sangat menyedihkan, kalau anak lelakinya berada dalam sel tahanan polisi. Tanpa banyak berfikir, sang Ibu pun berkeinginan untuk menjenguk putranya.
Setelah pinjam sana sini, akhirnya sang ibu menyusul anak lelakinya. Naik pesawat terbang. Sesuatu yang tadinya mustahil untuk dilakukan, jangankan untuk naik pesawat terbang, untuk kehidupan sehari-haripun sudah pas-pasan. Namun karena tekad yang kuat untuk bertemu anak lelakinya, maka sang ibupun berangkat setelah mendapat ijin dari suaminya.
Sesampai ditempat tujuan, sang ibu langsung menemui putranya. Ia seakan tak percaya melihat putranya, putranya yang dulu gagah sekarang kumal hanya berbalut celana kolor, kotor sepertinya tak mandi beberapa hari lamanya dan yang paling menyayat hatinya putranya tak sedikitpun mengenali Ibunya.”Siapa Kamu!”..Kata sang anak.”Nak..Nak..ini Ibumu..kenapa kamu disini. Ini tempat para maling dan penjahat, ini bukan tempatmu..ini bukan tempatmu,…siapa yang memasukkan kamu ke penjara ini Nak..siapa….ini bukan tempatmu Nak…” Tangis Sang Ibu tak henti-hentinya.
“Anak ibu membahayakan orang lain!” Begitu penjelasan dari polisi yang didapat ketika sang ibu menanyakan kenapa anaknya dimasukkan ke sel tahanan.” Ini tidak manusiawi, Pak!” seharusnya bukan begini caranya!” Kata sang ibu.”Tapi siapa yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu?!” Kata Pak Polisi.”Aku Pak!,…Aku yang bertanggung jawab, ..Aku Ibunya!” Jawab sang Ibu tegas.
Akhirnya Anak lelaki bu Sabar diperbolehkan pulang, dan sang ibu merencanakan membawa anak lelakinya ke kampung untuk pengobatan. Dengan segala perjuangan akhirnya sampailah sang ibu dan anak lelakinya ke rumah. Hatinya berbalut sedih nestapa, anak lelaki yang sangat disayanginya kini tak mengenali dirinya. “Ahh.. tidak mengapa, Aku harus kuat dan Aku harus berjuang demi anakku..aku tidak memiliki apa-apa, Tapi aku punya kekuatan Doa..Doa untuk anakku” Tekad sang ibu.
Sejak itu hari-harinya hanya untuk mengurusi anaknya. Sejauh ini ia tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk kesembuhan putranya yang ia tahu anaknya kembali seperti bayi. Semua keperluan anaknya Ibunya yang mengurusi, mulai dari makan, minum, mandi, BAB, ya.. semuanya. Anak lelakinya kembali seperti bayi tetapi bayi yang pemarah, bayi yang terus-menerus teriak, menendang, bahkan pernah mencekik nya. ”Bukan Salahnya..ini semua bukan salahnya..Ia hanya sakit..” Kata sang ibu begitu Ikhlasnya.
Hampir tiga bulan lamanya sang ibu menemani putranya, dan selama itu katanya tak pernah sekalipun sang ibu bisa tersenyum, apalagi tertawa. Pernah beliau mendengar tawa seorang tetangganya, katanya beliau sangat iri kepada tetangganya itu karena bisa tertawa.
Sampai suatu ketika ada tetangga yang berbaik hati, memberikan informasi pengobatan medis di rumah sakit. Dibawalah sang anak kesana. Setelah hampir dua minggu berobat., tibalah saat sang ibu untuk menemui putranya.
“Ibu”…panggil sang anak. Mengalir deraslah tangis sang Ibu…”Ya Alloh yang Maha Pengasih…terima kasih atas karunia Mu, Anak lelakiku telah kembali”.” Panggil lagi Nak..panggil lagi aku Ibu sepuasmu…kata Itu sangat berharga dan yang paling indah yang pernah ku dengar” Kata Sang Ibu.
“Ibu..sepertinya aku telah bermimpi. Sudah berapa lama aku di rumah sakit ini?, Aku Kenapa disini bu?.apa yang telah terjadi dengan aku” Tanya sang anak bertubi-tubi. Perlahan-lahan dieja deretan kata-kata dibaju yang ia pakai ..juga tulisan yang ada diseprei tempat tidurnya…Ru..mah..Sa..kit…Ji..wa.”Hah!.. Rumah Sakit Jiwa?..Apa Aku sakit Jiwa bu..” Tanya sang anak.
Sang Ibu terus memeluknya..tak ingin melepaskannya…kali ini Sang Ibu menangis bahagia.”Kamu sudah sehat anakku..kamu sudah bangun dari mimpi burukmu. Terima kasih Ya Alloh…terimakasih Ya..Alloh..Engkau telah mengabulkan doaku” Kata sang ibu.
Sang Ibu terhenyak dari lamunan peristiwa lima tahun yang lalu, ketika para tamu undangan Walimah pernikahan anak lelakinya mulai berdatangan. Selamat menempuh hidup baru anakku, Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawadah Warohmah. Doa Restuku akan selalu menyertaimu… Anak-anakku.


By: Ani Murtini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS